Sebelum internet 4G dan 5G menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, Indonesia pernah mengalami era persaingan operator seluler yang sangat dinamis. Pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an, berbagai merek kartu SIM hadir dengan identitas, inovasi, dan strategi masing-masing untuk memenangkan hati masyarakat. Dari sinilah lahir banyak nama yang hingga kini masih dikenang sebagai bagian dari perjalanan teknologi komunikasi di Indonesia.
Salah satu pionir penting adalah Mentari, layanan prabayar milik Satelindo yang kemudian berada di bawah Indosat. Mentari dikenal sebagai salah satu pelopor kartu prabayar di Indonesia dan menjadi pilihan banyak pengguna karena menawarkan masa aktif yang relatif panjang pada masanya. Seiring restrukturisasi perusahaan, merek ini akhirnya dilebur ke dalam IM3 Ooredoo pada tahun 2016 sebagai bagian dari konsolidasi bisnis Indosat.
Di periode yang sama, teknologi CDMA turut meramaikan industri telekomunikasi nasional. Esia, yang dioperasikan oleh Bakrie Telecom, menjadi salah satu pemain paling populer. Operator ini dikenal melalui tarif yang inovatif, seperti SMS berbasis jumlah karakter dan tarif telepon per detik. Didukung perangkat dengan harga terjangkau, Esia berhasil menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Namun, ketika dunia bergerak menuju standar GSM dan 4G LTE, ekosistem CDMA perlahan kehilangan relevansinya hingga akhirnya layanan Esia dihentikan.
Telkom Indonesia juga pernah menghadirkan Telkom Flexi melalui konsep Fixed Wireless Access (FWA). Flexi menawarkan pengalaman menggunakan telepon rumah dalam bentuk perangkat seluler dengan tarif lokal yang lebih ekonomis. Bagi banyak keluarga Indonesia, Flexi menjadi solusi komunikasi jarak jauh yang terjangkau sebelum internet dan aplikasi pesan instan berkembang seperti sekarang. Layanan ini resmi ditutup pada tahun 2014 dan pelanggannya dimigrasikan ke Telkomsel.
Jika berbicara tentang operator yang paling melekat di ingatan masyarakat, nama simPATI dan Kartu As tentu sulit dilewatkan. Selama bertahun-tahun, keduanya menjadi tulang punggung layanan prabayar Telkomsel. simPATI dikenal dengan jangkauan sinyal yang luas dan citra premium, sementara Kartu As hadir sebagai alternatif yang lebih kompetitif untuk berbagai kalangan. Pada tahun 2021, Telkomsel menyederhanakan portofolio produknya dengan menyatukan simPATI, Kartu As, dan LOOP ke dalam Telkomsel PraBayar. Menariknya, beberapa tahun kemudian Telkomsel kembali menggunakan nama SIMPATI sebagai identitas utama layanan prabayarnya, menunjukkan kuatnya nilai historis merek tersebut di mata masyarakat Indonesia.
Di kubu lain, XL Axiata juga memiliki merek legendaris seperti XL Bebas dan XL Jempol. Kedua produk ini lahir di tengah ketatnya persaingan tarif komunikasi dasar pada era 2000-an. Melalui berbagai promosi telepon dan SMS murah, XL berhasil memperkuat posisinya di pasar nasional. Seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan data internet, berbagai merek tersebut akhirnya disederhanakan menjadi satu identitas utama, yaitu XL.
Memasuki era internet berkecepatan tinggi, muncul pula penyedia layanan yang fokus pada akses data. BOLT! menjadi salah satu pelopor layanan 4G LTE melalui perangkat modem MiFi, terutama di wilayah Jabodetabek. Di kawasan Indonesia Timur, masyarakat juga mengenal Hinet sebagai salah satu penyedia internet pita lebar yang sempat hadir di beberapa kota. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap koneksi internet cepat, bahkan sebelum operator seluler utama sepenuhnya mengembangkan jaringan 4G. Namun, berbagai tantangan bisnis dan regulasi membuat layanan-layanan tersebut akhirnya dihentikan.
Perjalanan berbagai operator dan merek kartu SIM legendaris ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi selalu diiringi oleh proses adaptasi. Ada merek yang berevolusi, ada yang bergabung dengan identitas baru, dan ada pula yang harus mengakhiri perjalanannya karena perubahan standar industri. Meski demikian, semuanya memiliki satu kesamaan: pernah menjadi bagian dari kisah komunikasi jutaan orang Indonesia.
Kalau kamu pernah merasakan era SMS berantai, membeli voucher fisik di konter dekat rumah, atau sengaja memilih operator tertentu demi tarif telepon yang lebih murah, kemungkinan besar salah satu nama di atas pernah menemani keseharianmu.